Penyebab Enuresis (Mengompol) dan Cara Mengatasinya

Anak itu unik, tidak semua anak di lahirkan seperti anak-anak pada umumnya sehingga dapat di pandang dan diterima oleh lingkungannya sebagai anak normal atau wajar. Tidak sedikit anak tumbuh menjadi sosok yang yang berbeda, ini karena dipengaruhi oleh beberapa faktor yang menyebabkannya. Saya katakan berbeda karena anak ini menunjukkan adanya penyimpangan perilaku di bandingkan dengan sebagian besar anak seusia dan berada dalam keadaan sama. 


Mengatasi anak anak sering ngompol w

Penyimpangan  perilakuada bermacam-macam, salah satunya adalah kebiasaan buruk. Dan kebiasaan buruk ini juga meliputi banyak hal, diantaranya adalah mengisap jari, menggigit kuku, mengompol dan sebagainya. Adanya perbedaan ini menyebabkan kebutuhan anak tersebut berbeda dengan kebutuhan anak-anak lain pada umumnya, termasuk pola didik atau pola asuhnya.

Terkadang sebagian orang tua mengeluhkan kelakuan anaknya yang masih terbiasa buang air sembarangan atau mengompol. Padahal si anak tadi bisa di bilang sudah bukan usia balita lagi sementara teman lain seusianya sudah tidak mengalaminya. Hal inilah yang akhirnya membuat orang tua merasa cemas dengan perilaku tersebut.  Selain merugikan diri sendiri, kebiasaan buruk ini juga mengganggu orang lain. Apalagi jika sampai teman-teman si anak tahu bahwa si A masih suka ngompol. Takutnya nanti si A, akan jadi bahan ejekan teman-temannya “De de pol, udah gede masih ngompol” jika tak segera di atasi.

Mengompol dalam istilah medis di sebut enuresis. Sedangkan eneuresis sendiri terbagi menjadi 2 jenis, (1) nokturna :  yaitu mengompol yang terjadi pada malam hari saat tidur, dan yang ke-2 diurnal yaitu eneuresis/ngompol pada siang hari. 

Mengompol lebih sering terjadii pada anak laki-laki dari pada anak perempuan. Lalu pertanyaannya kenapa si anak masih ngompol di usia yang tidak seharusnya ia tak ngompol, apa faktor yang jadi penyebabnya?

Untuk mengetahui penyebab serta solusi mengatasinya, kali ini caraida akan bahas, untuk itu silahkan sahabat baca sampai tuntas penjelasan berikut.

1. Toilet training yang terlalu dini

Terlalu cepat di latih untuk menggunakan toilet dengan memberikan perhatian terlalu banyak justru akan menyebabkan anak mengalami gangguan mengompol ini. Misalnya, seorang bayi usia 3-6 bulan sudah di latih untuk pipis teratur (dalam bahasa jawa di katakana ditatur/ditur) sesuai dengan keinginan orang tuanya justru dapat mengakibatkan gangguan ini muncul di kemudian hari. Di usahakan tidak memberikan toilet training terlalu dini kepada anak.

2. Mengabaikan toilet Training

Sebaliknya, jika mengabaikan toilet training sama sekali juga akan memunculkan kebiasaan mengompol pada anak. Untuk menghindari anak tidak terus-terusan ngompol, lakukan toilet training pada si anak, Ajari anak untuk buang air di toilet saat ingin pippis, kasih pengertian ke anak agar mau bilang saat pingin buang air, sebagai orang tua haruslah peduli masalah ini dan selalu kasih perhatian ke anak. Jangan biarkan anak membiasakan diri buang air sembarangan.

Yang terbaik di lakukan orang tua adalah mencoba mengamati waktu-waktu tertentu anak biasa buang air kecil. Kemudian melatih dengan membiasakan anak dengan mengingatkan anak untuk buang air (jika sudah bisa di ajak bicara)atau langsung mengajaknya ke kamar mandi dengan bahasa yang bukan paksaan, “ayo pipis sekarang, nanti ngompol!” melainkan kalimat ajakan yang lembut kepada anak, “adik pipis dulu, ya … dst..” orang tua yang memaksa anaknya untuk buang air, akan berbeda dengan orang tua yang mengingatkan anaknya untuk buang air.

3. Gangguan Emosional

Faktor lain penyebab anak masih sering ngompol yaitu adanya gangguan emosional pada diri anak. Gangguan ini bisa terjadi saat dirumah atau saat anak berada di sekolah.  Ketika gangguan emosional itu terjadi dapat membuat ia merasa kurang nyaman sehingga terjadi ketegangan yang tinggi, keadaan ink dapat memicu si anak mengalami enurosis. Misalnya seorang anak yang di hukum gurunya berdiri di depan kelas karena tidak mengerjakan PR. Anak tersebut mengalami rasa teramat malu, takut dan tegang. Semua bercampur menjadi satu. Setelah berdiri kira-kira 10 menit, ia tidak bisa mengontrol dirinya. Tanpa dapat di cegah ia mengompol di depan kelas. Memang ini harus dapat dipahami oleh orang tua dan guru di sekolah, jangan bikin anak mengalami ketegangan emosional, karena selain efek ngompol tersebut, otak anak yang tegang akan membuatnya sulit memahami apa yang kita ajarkan. Buatlah anak dalam kondisi selalu senang dan senyaman mungkin.

4. Faktor organik dalam tubuh

Faktor ini berkaitan dengan organ tubuh pada si anak, terutama saluran kencingnya. Perlu dipahami bahwa beberapa anak ada mempunyai jenis kandung kemih yang bisa gampang sekali terngsang, dimana  kondisi tersebut menyebabkan si anak sebentar-sebentar pingim buang air kecil, ini terjadi dalam jarak waktu berdekatan.

Beberapa penyebab mengompol sudah di ketahui, lalu apa tindkan yang harus di lakukan untuk menanganinya? Berikut beberapa hal penanganan yang bisa di lakukan;
  • Tidak terlalu dini mengenalkan toilet training dan tidak mengabikannya.
  • Tidak menghukum atau memarahi anak yang mengompol, tetapi mengajaknya bicara dan berilah penjelasan bahwa mengompol bukanlah suatu penyakit. Melainkan kebiasaan anak kecil yang dapat di perbaiki jika mau berusaha.
  • Mengurangi minum pada sore atau malam hari dan mengingatkan anak untuk buang air sebelum tidur.
  • Mengontrol kencing anak dengan lebih baik. Untuk anak yang sebentar-sebentar buang air dapat di coba dengan di latih menahan secara bertahap. Yang semula buang air dalam jrak waktu 5 menit, ajarkan untuk menahan dua menit lagi dan meningkatkan jarak waktunya dengan terus berlatih.
  • Jika kebiasaan mengompol masih berlanjut, anak dapat di konsultasikan kepad dokter ahli urology.
Untuk itu buat para orang tua tak perlu cemas jika anak sering ngompol. Tips di atas dapat dicoba untuk diterapkan, namun harus kenali dulu penyebab anak mengompol baru cari solusinya. Jangan pernah mengecap atau membuat label (labelling) pada anak sebagai tukang ngompol karena akan berakibat tidak baik pada mental anak.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel